JAKARTA – Geopolitik dunia saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat dinamis dan kompleks. Ketegangan antar negara besar kembali menguat, ditandai dengan meningkatnya rivalitas kekuatan global, perubahan aliansi strategis, serta meningkatnya belanja pertahanan dan persaingan ekonomi.
Menurut Prof. Dewi Fortuna Anwar, situasi geopolitik kontemporer tidak dapat dilepaskan dari akar sejarah sistem internasional pasca Perang Dunia II. Pada masa itu, negara-negara yang sebelumnya bersatu melawan fasisme, terutama Amerika Serikat dan Uni Soviet, kemudian terpecah akibat perbedaan ideologi kapitalisme dan komunisme yang melahirkan Perang Dingin. Periode ini ditandai dengan perlombaan senjata, khususnya senjata nuklir yang menciptakan keseimbangan ketakutan (balance of terror) dan membentuk struktur keamanan global selama beberapa dekade.
Namun, setelah berakhirnya Perang Dingin. Geopolitik global mengalami transformasi signifikan. Dominasi militer Amerika Serikat tidak lagi sepenuhnya diimbangi oleh kekuatan militer Rusia, melainkan oleh munculnya kekuatan baru di bidang ekonomi dan industri, terutama China. Kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi global telah mengubah keseimbangan kekuatan dunia, menciptakan dinamika baru dalam sistem internasional yang tidak lagi sepenuhnya unipolar.
Dalam konteks saat ini, kebijakan yang diambil oleh Presiden Amerika Serikat, termasuk pada masa pemerintahan Donald Trump, turut memperkuat kecenderungan Rivalitas Geopolitik, Proteksionisme Ekonomi, dan kompetisi strategis antar negara besar. Dunia kini memasuki fase baru yang sering disebut sebagai “Era Multipolar,” di mana kekuatan global tidak lagi didominasi oleh satu negara, tetapi oleh beberapa kekuatan utama dengan kepentingan dan pengaruh masing-masing.
Bagaimana posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik ini? Apa tantangan dan peluang yang muncul bagi kawasan Asia Tenggara?
Simak pembahasan lengkapnya bersama Prof. Dewi Fortuna Anwar dalam episode ini. [Adm]





