JAKARTA – Bandara Internasional Jawa Barat atau BIJB Kertajati kembali menjadi perhatian. Bukan hanya soal penerbangan sipil, kali ini muncul wacana strategis untuk mengoptimalkan Kertajati sebagai fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul atau MRO bagi pesawat angkut militer C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara.
Wacana ini tentu menarik. Di satu sisi, Kertajati memiliki potensi infrastruktur dan kawasan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan MRO. Jika terealisasi, fasilitas ini bukan hanya dapat mengoptimalkan aset nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat ekosistem industri penerbangan dan industri pertahanan Indonesia.
Namun, membangun MRO untuk pesawat militer seperti C-130 Hercules bukan perkara sederhana. Ada tantangan sertifikasi dari pabrikan, aspek kelaikan dan keselamatan penerbangan, harmonisasi regulasi sipil dan militer, kesiapan sumber daya manusia, hingga ketersediaan rantai pasok suku cadang.
Lalu, seberapa siap sebenarnya Kertajati menjadi pusat MRO C-130 Hercules? Apakah ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian pemeliharaan alutsista Indonesia dan bahkan menjadikan Kertajati sebagai hub MRO Hercules di kawasan Asia Tenggara? Atau justru tantangan regulasi, sertifikasi, teknologi, dan kesiapan industri masih terlalu besar untuk diwujudkan dalam waktu dekat?
Di Podcast FORKOMINHAN kali ini, kita akan membedah persoalan tersebut dari dua perspektif, industri pertahanan dan penerbangan nasional. Bersama Eris Herriyanto, pakar dan praktisi industri pertahanan, serta Alvin Lie, pengamat dan pakar penerbangan nasional, kita akan mengupas peluang, tantangan, hingga strategi yang diperlukan untuk mewujudkan Kertajati sebagai pusat MRO C-130 Hercules.
Benarkah Kertajati akan menjadi MRO C-130 Hercules? Peluang besar atau tantangan berat? Simak pembahasannya hanya di Podcast FORKOMINHAN. Salam Pertahanan Nasional!. [Adm]






