Masa Depan Kerja Sama Industri Pertahanan Indonesia dan Korea Selatan

Jakarta – Sejarah telah memberikan pelajaran berharga yang tidak boleh dilupakan begitu saja tentang apa yang terjadi jika Indonesia sangat tergantung kepada negara-negara produsen alutsista yang dipergunakan TNI.

Sebanyak 69 perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pertahanan (inhan) menjadi peserta dalam seminar bertajuk “Indonesia-Korea Defense Industry Cooperation Forum 2023”.

Empat perusahaan dari Indonesia bersama tiga perseroan dari Korea Selatan (Korsel) hadir menjadi peserta seminar secara offline. Sementara 62 perusahaan yang juga berasal dari Korsel juga turut hadir secara online pada seminar yang digelar oleh Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA).

Pada seminar yang digelar di Kantor Kotra di Jakarta pada Rabu, 8 Maret 2022 tersebut, ada beberapa perusahaan dari Korsel yang mengajukan kerja sama di bidang inhan.

Permohonan kerja sama dengan segera langsung ditindaklanjuti kepada perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia agar dapat segera dipelajari dan didiskusikan. Diharapkan kerja sama dapat memenuhi kebutuhan pengguna, baik yang berada di Indonesia maupun di luar negeri.

Kerja Sama Pertahanan

Sebelum melanjutkan tulisan ini, perlu dikemukakan jika Kotra adalah non profit promotion agency milik Pemerintah Korsel. Kotra berada di bawah koordinasi Kedutaan Besar (Kedubes) Korsel yang bertugas untuk melancarkan kerja sama kedua negara melalui sharing pandangan dan menjembatani kepentingan defense industry di kedua negara.

Kerja sama pertahanan antara Indonesia dengan Korsel sebenarnya sudah berjalan cukup lama. Salah satu yang menarik perhatian publik adalah proyek pembangunan bersama pesawat jet tempur KF-21.

Pada awalnya proyek kolaborasi kedua negara itu diberi nama Korean Fighter eXperiment/Indonesia Fighter eXperiment (KFX/IFX). Bendera nasional Korsel, Taegeukgi, dan Sang Saka Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia yang berada di bodi KF-21 menunjukkan jika kedua negara adalah mitra strategis dalam proyek pengembangan pesawat tempur.

Publik di kedua negara tentu mengamati dengan teliti sejauh mana perkembangan pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 yang memiliki teknologi siluman tersebut. Oleh sebab itu, atensi publik harus dikelola semaksimal mungkin untuk mendorong kemajuan kerja sama kedua negara.

Tidak hanya KF-21 yang diberi julukan “Boramae” dalam bahasa Korea atau “Elang” dalam bahasa Indonesia, kerja sama kedua negara juga dilakukan dalam pembangunan kapal selam. Jadi adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah jika kolaborasi Indonesia dan Korsel telah berhasil menjelajahi langit dan menyelami kedalaman samudra.

Jet tempur dan kapal selam kolaborasi kedua negara yang telah terbukti berhasil menjalani uji coba merupakan produk-produk teknologi tinggi. Hanya negara-negara tertentu di dunia yang mampu menjadi produsen pesawat tempur dan kapal selam.

Kolaborasi Perlu Dilanjutkan

Sebagai Alat utama sistem senjata (Alutsista) berteknologi tinggi, kolaborasi kedua negara untuk membangun jet tempur dan kapal selam harus terus dilanjutkan. Mengapa demikian? Karena sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang wilayahnya terdiri dari sepertiga daratan, dua pertiga lautan dan tiga pertiga udara, Indonesia pasti akan membutuhkan kekuatan laut (sea power) yang didukung oleh kekuatan udara (air power).

Sebagai negara mitra, Korsel tentu saja akan membuka pintu kerja sama selebar-lebarnya untuk mitra-mitranya yang berasal dari Indonesia. Berbagai kesepakatan memang harus disetujui sebelumnya. Namun dari kolaborasi KF-21 Boramae, Indonesia telah memperoleh pelajaran berharga jika syarat dan ketentuan kerja sama sangat terbuka dan fleksibel untuk dinegosiasikan, termasuk dalam persoalan yang paling vital sekaligus sensitif yaitu pembiayaan.

Selain jet tempur dan kapal selam, masih ada produk-produk inhan yang dihasilkan Korsel. Mulai dari rudal pertahanan udara, anti ballistic missile hingga tank. Produk-produk lain yang dapat dipergunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai dari matra darat, laut hingga udara tentu saja masih sangat terbuka untuk diproduksi secara bersama-sama oleh kedua negara.

Namun tentu saja ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum memulai kerja sama. Misalnya, jika Indonesia sudah mampu memproduksi sendiri alutsista tertentu, contohnya senapan serbu, tidak perlu dilakukan kolaborasi dengan negara lain, termasuk Korsel. Tetapi apabila peningkatan kualitas produk perlu dilakukan, maka jangan menutup diri untuk berkolaborasi dengan negara-negara lain.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang terjadi terus menerus tanpa henti, ruang lingkup kolaborasi juga perlu diperluas. Satu hal menarik yang perlu disampaikan, dalam presentasinya di seminar, Kedutaan Besar (Kedubes) Korsel di Jakarta juga menyampaikan jika pada saat ini negeri ginseng juga telah memproduksi drone tempur untuk melakukan penyerangan dan anti drone system untuk pertahanan udara.

Kolaborasi telah berjalan cukup lama, pintu kerja sama sudah terbuka lebar, hasilnya juga telah sesuai dengan target yang diharapkan. Jadi sekarang adalah saat yang paling tepat untuk mengembangkan kolaborasi di bidang-bidang lain. Sudah bukan saatnya Indonesia hanya menjadi konsumen yang hanya mampu memenuhi kebutuhan alutsistanya dengan membeli dari negara-negara yang menjadi produsen.

Sejarah telah memberikan pelajaran berharga yang tidak boleh dilupakan begitu saja tentang apa yang terjadi jika Indonesia sangat tergantung kepada negara-negara produsen alutsista yang dipergunakan TNI.

Sekarang adalah saat yang paling tepat untuk melepaskan ketergantungan dari negara-negara produsen yang seringkali memengaruhi pembangunan angkatan perang Indonesia. Ingat,

Indonesia pernah menjadi negara yang sangat diperhitungkan kekuatan perangnya baik di darat, laut maupun udara oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Benua Asia bahkan dunia.

Setelah seminar yang digelar di Kantor Kotra di Jakarta pada Rabu, 8 Maret 2022 usai digelar, selanjutnya di masa yang akan datang, pertemuan antar stakeholder inhan di kedua negara akan digelar secara rutin. Pertemuan rutin akan difasilitasi oleh Kotra bersama dengan Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan). [Adm]

Foto: Korea Aerospace Industries

Eris Herryanto

Eris Herryanto

Marsekal Madya Purnawirawan (Marsdya Purn.) Eris Herryanto pernah bertugas di jantung pertahanan udara Indonesia, menjadi pilot F-86 Sabre, T-33 Shooting Star, F-5 Eagle, hingga F-16 Fighting Falcon. Hingga kini masih aktif terbang Aerobatik, turut terlibat dalam dinamika industri pertahanan di Indonesia, sekaligus tertarik untuk mengamati berbagai kerja sama strategis di ranah pertahanan yang melibatkan Indonesia dengan Negara-negara lain.

Artikel Terbaru